Sabtu, 07 Januari 2012

Sejarah dan Perkembangan Ilmu Geografi


Pada mulanya disiplin geografi tidak tersusun secara sistematis seperti sekarang. Pada zaman Homeros dan Hesiodos abad ke - 9 sampai ke - 8  masih dipengaruhi oleh mitologi terutama mitos kosmogonis (keterangan tentang asal-usul serta kejadian terutama dalam alam semesta) (Bertens, 1999: 19).
Pada zaman Thales (640-548 SM) masih beranggapan bahwa bumi berbentuk silinder yang terapung di atas air dengan separuh bola hampa di atasnya. Pendapat ini hilang setelah Permindes (515-455 SM) berpendapat bahwa bumi berbentuk bulat.
            Herodotus (485-425 SM) seorang sejarawan berpendapat bahwa betapa eratnya hubungan antara perkembangan masyarakat dengan faktor-faktor geografi di wilayah yang bersangkutan (Lucile, 1960: 13). Herodotus telah membuat peta dan membagi dunia dalam tiga bagian, yaitu Eropa, Asia dan Libya (Afrika) peta tersebut menjadi acuan bagi kepentingan pelayaran, perdagangan maupun pengembangan pengetahuan khususnya bangsa yunani kuno
            Salah satu pandangan herodotus yaitu memusatkan yunani sebagai poros dunia. Hal ini tidak terlepas dari pandangan tradisional yang masih  bersifat kosmologis (Lapian, 1980: 6).
            Kemudian Heracleides (320 SM) berjasa besar dalam astronomi, ia berpendapat bahwa bumi berputar pada sumbu dari barat ke timur. Ia membagi beberapa zona iklim meskipun belum diketahui bahwa hal tersebut merupakan akibat dari letak sumbu bumi yang miring (Bintaro dan Hadisumarno, 1979: 2).
            Eratosthenes (275-192 SM) berjasa dalam menentukan ukuran besar bumi, peletak dasar geodesi, dan membuat katalogus bintang (Shadily, 1984: 947).
            Environmental determinism atau determinisme lingkungan sebenarnya berasal dari Julius caesar (100-44 SM) dalam tulisanya berjudul Gallic Wars mengemukakan faktor geografi terhadap pemerintahannya serta pengaruh lingkungan alam terhadap kemenangannya. Starbo ahli geografi dan sejarawan yunani kuno menguraikan betapa besar pengaruh lingkungan fisik manusia terhadap pengelompokan kebudayaan dan model-model pemerintah. Ia digolongkan  sebagai tokoh determinisme lingkungan (sumaatmadja, 1998: 15). Ia telah membuat peta yang dikenal dengan Peta Starbo yang merupakan penyempurnaan peta Herodotus
            Seabad setelah pengaruh starbo dalam determinisme lingkungan, Cladius Ptolomaeus (100-178 M) seorang ahli astronomi Alexandria Mesir-Yunani kuno menulis buku berjudul Geographike Unphegesis. Mengemukakan bahwa geografi adalah penyajian peta dari sebagian permukaan bumi yang menunjukan ketampakan umum yang terdapat padanya. Ia berpendapat bahwa geografi berbeda dengan Chorografi. Chorografi membahas wilayah atau region tertentu serta menyajikannya lebih mendalam. Chorografi lebih mengutamakan pada ketampakan asli suatu wilayah serta bukan ukurannya. Sedangkan geografi lebih mengutamakan kuantitatif daripada kualitatif. Pendapat ptolomeus tersebut merupakan sumber bagi definisi geografi modern (Bintaro dan Hadisumarno, 1979:3)
            Jasa Ptolomeus pada perkembangan geografi yaitu pada pembuatan dan penggunaan peta. Setelah mendapatkan alat pencetakan, peta ptolomeus dicetak sebagai atlas ptolomeus dengan sedikit perubahan (mitchell, 1960: 34)
            Pelajaran geografi tentang bola bumi dengan menggunakan pendekatan dan pengukuran yang matematis baru dilakukan oleh Phytagoras (585-507 SM) pembagian bumi berdasarkan lintang dan bujur serta pergeseran matahari yang mempengaruhi iklim berasal dari kelompok aliran matematik. (Khiam, 1980: 9)
            Pada abad pertengahan dan zaman Renaissance, geografi digunakan untuk kepentingan penyebaran agama, perdagangan serta perang yang dilakukan oleh penyebar agama. Bernhardus Veranius (1622-1650) dalam bukunya Geographia Generalis di amsterdam tahun 1650 (Broek, 1969: 13) ia berasumsi bahwa terdapat dualisme dalam geografi. Pertama,. Geografi mempelajari fenomena yang bersifat alamiah seperti pada litosfer, hidrosfer dan atmosfer serta mempelajari hubungan matahari dan bumi. Kedua geografi mempelajari sosial kebudayaan
            Tokoh abad pertengahan lain seperti Nicolaus Copernicus (1474-1543) bersama Galileo Galilei mengembangkan teori heliosentris (tata surya berpusat pada matahari) dalam astronomi modern mengabadikan nama Copernicus sebagai salah satu kawah besar di permukaan bulan (shadily, 1984: 707)
            Alexander Von Humboldt (1976-1859) dan Karl Ritter (1779-1859) dianggap sebagai peletak dasar geografi modern (sumaatmadja, 1988: 18), kedua tokoh berjasa dalam meletakan dasar ilmu pengetahuan empiris (empirical sciences). Ritter mengemukakan bahwa geography to study the earth as the dwelling place man, dan inilah yang membuat Karl Ritter sebagai peletak dasar Geografi Sosial Modern (sumaatmadja, 1988: 19).
            Selanjutnya adalah Emmanuel Kant (1724-1804) mendapat julukan “Bapak Geografi Politik”, disamping sebagai peletak dasar Geografi Modern.
            Kemudian Frederich Retzel (1844-1904) menerbitkan buku Pitsce Geographie (1897) gagasan kontemporer tentang determinisme lingkungan diterapkan pada kajian negara.
            Paul Vidal de la Blache menulis Principes de geographie humanie (1992) berusaha melepas visi determinismnya, namun manusia dianggap sebagai mahkluk yang aktif  maka dari itu ia mendapat gelar sebagai “Bapak Geografi Sosial Modern”. Dalam pernyataannya bahwa Geography is the science of place, concerned with qualities and potentialities of countries (Hartsorne, 1960: 13)
            James Fairgrive, seorang geografer Amerika Serikat mengemukakan bahwa geografi memiliki nilai edukatif, terutama untuk berpikir kritis dan bertanggung jawab terhadap kehidupan dunia.
            Prestone E. James dalam karyanya American Geography: Inventory and prospect, merupakan  tulisan yang mengetengahkan pandangan tentang eratnya hubungan geografi dengan sejarah sehingga dianalogikan sebagai ilmu dwi tunggal antara tempat dan waktu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar